Tiap orang pasti punya jawaban sendiri tentang wajah Jakarta. Kalau besar dengan menonton film-filmnya Warkop, wajar kalau wajah Jakarta lekat dengan bundaran HI. Tahun 70-80an memang Jakarta seolah cuma punya 1 wajah itu. Wajah yang cantik dan terkesan “sukses”. Setidaknya di layar kaca dan layar lebar. Tak heran, saat SMP dan SMA dulu, saya punya keinginan suatu saat nanti bisa kerja di kawasan bergengsi Jakarta, alias Sudirman, Thamrin dan sekitarnya. Apa kerjanya, belum jadi soal. Dan saya termasuk beruntung karena keinginan itu terwujud. Setidaknya saya sudah merasakan berkantor di kawasan Menteng, Kuningan dan Thamrin.
Tapi selain nama kawasan yang mentereng, apa sih untungnya buat saya? Setelah dipikir-pikir, jawaban yang cukup memuaskan saya hingga kini adalah: perjalanannya. Lokasi ketiganya tak berjauhan, jadi walaupun kantornya berubah, tapi bis yang saya gunakan tetap sama. Patas AC 79 dan 46. Perjalanannya lumayan, 45-60 menit, kecuali di hari-hari luar biasa macet. Kalau pagi jangan ditanya. Naik dari Cawang selalu bisa dipastikan gak akan kebagian duduk, setidaknya sampai masuk Kuningan. Tapi perjalanan pulang jarang mengecewakan. Apalagi saat berkantor di Thamrin. Dijamin, bis selalu datang dalam keadaan cenderung kosong melompong. Saya pun langsung mengambil posisi di deretan kursi berdua, tepat di sebelah jendela.
Berbeda dengan pagi hari, perjalanan pulang selalu saya nikmati sepenuh hati. Bahkan, bisa dibilang tak ingin cepat diakhiri. Ditemani musik dari handphone atau ipod, kadang ditambah camilan coklat atau donat, saya nikmati pemandangan sepanjang jalan. Sengantuk apa pun. Pikiran melayang entah kemana. Ah, saya bebaskan saja ia. Saking tak maunya terganggu, saya selalu pastikan kostum saya tepat setiap kali harus pulang naik patas, yaitu celana panjang dan sepatu tertutup. Kenapa? Menghindari gangguan nyamuk tentunya. Ajaib memang. Melihat gedung-gedung tinggi, lampu aneka warna, jajaran billboard dan orang-orang di jalan mampu menimbulkan sensasi tenang dan ringan di hati sambil pikiran melanglang buana.
***
Malam ini, video klip “Moving On” Andien hadir di TV. Pastinya langsung menarik mata saya. Maklum, settingnya Andien jalan-jalan ke Phi-phi. Sebetulnya saya sudah lihat klip ini berkali-kali, tapi malam ini entah kenapa pas lihat bagian Andien di kapal dari Phuket menuju Phi-phi, langsung kepengeeen banget ke sana lagi. Merasakan lagi duduk di luar sambil menikmati angin nan bergemuruh dan cipratan air. Dijamin, duduk di situ selama kurang lebih 2 jam perjalanan, rambut bakal kuyup pas sampe. Tapi itu serunyaaa...
Teringat perjalanan 4 bulan lalu. Bukan, bukan apa yang saya lihat. Tapi, apa yang saya rasakan selama perjalanan. Asinnya air laut yang terasa cipratannya hingga ke bibir, deru ombak dan mesin kapal, angin dingin yang mengobati panasnya sinar matahari di kulit, dan rambut kacau balau efek mantapnya angin. Ringan. Seolah semua barang bawaan selama ini lepas tertinggal di pelabuhan. Riang pun menyeruak yang anehnya tak ada sangkut-pautnya dengan kemana kapal itu menuju.
***
Perjalanan. Pastinya ada titik keberangkatan dan tujuan. Kalau itu sebuah liburan, hampir dapat dipastikan tujuannya yang dinilai penting. Ingin cepat sampai dan ah, tentunya ambisi berburu foto diri yang mengalahkan ambisi menikmati perjalanan itu sendiri. Menjadi ringan dan riang dalam prosesnya. Menikmati perjalanan yang tak selalu mulus dengan seluruh indera. Kadang tersesat, ditipu, mabuk perjalanan, atau justru penuh keberuntungan. Rasanya, tak perlu buru-buru ingin mencapai tujuan, apalagi berpikir harus segera kembali lagi ke tempat itu di masa mendatang. Nikmati saja saat yang ada.
Begitu juga dengan perjalanan saya yang satu ini. Yang ternyata sudah saya jalani selama 29 tahun. Percayalah, saya itu gampang mabuk; laut, darat dan udara. Terbukti memang. Perjalanan panjang ini cukup memabukkan. Tapi, mau gimana lagi? Kalau mabuknya tak tertahankan..minum saja obat. Kalau lagi cerdas, sebelum mabuk, siap-siap dengan antimo. Apapun itu, dinikmati saja prosesnya. Saat ini, sekarang. Bukan saat tiba di suatu titik nanti yang entah kapan.
0 comments:
Post a Comment